Di tengah gegap gempita modernisasi, ada satu nama yang selalu mengakar kuat pada nilai-nilai budaya dan kearifan lokal: Kang Dedi. Ia bukan hanya seorang pemimpin, tapi sosok yang menghidupkan kembali identitas masyarakat Sunda melalui laku nyata dalam pemerintahan dan pembangunan.
Bagi Kang Dedi, pembangunan tidak harus menghapus tradisi. Justru dari nilai-nilai leluhur, ia menggali semangat gotong royong, kejujuran, dan cinta lingkungan. Dari situlah kebijakan dilahirkan, dari situlah pembangunan bermula.
Lihatlah Purwakarta saat dipimpinnya. Taman-taman rakyat bukan sekadar penghias kota, tapi ruang hidup bersama. Patung dan ornamen budaya bukan sekadar hiasan, tapi pengingat jati diri. Program pemberdayaan masyarakat bukan sekadar angka di APBD, tapi peluang nyata bagi rakyat kecil untuk naik kelas.
Kang Dedi adalah contoh bagaimana pemimpin bisa dekat tanpa pencitraan, bisa tegas tanpa kekerasan, bisa berpihak tanpa pilih kasih. Ia hadir di tengah masyarakat, berjalan kaki menyusuri kampung, menyapa warga, menyerap keluh kesah — bukan dari balik meja, tapi dari tanah yang sama dengan rakyatnya berpijak.
Kini, ketika banyak bicara tentang kemajuan, Kang Dedi mengingatkan bahwa kemajuan sejati bukan soal gedung menjulang atau teknologi mutakhir, melainkan rakyat yang sejahtera, budaya yang lestari, dan alam yang terjaga

0 Komentar